Oleh: Makmun Rasyid
Segala kemahabenaran tuhan yang qath’i, dia telah menawarkan tangtangannya yang bersifat universal kepada mahluk-Nya yang inkar terhadap keberadaannya dan yang mungkar terhadap perintahnya (baik yang datang dari Allah maupun dari Rasulullah SAW). Manusia di janjikan oleh allah dengan martabat yang tinggi apabila ia mampu memposisikan dirinya dan jika ia tidak mampu maka dirinya lebih jahat dari binatang (Qs. Al-‘Araf ayat 179), allah telah memberikan seperangkat alat yang ada di tubuh kita untuk di gunakan sebagaimana mestinya. Allah lebih memuliakan manusia yang melebihi segenap entitas lainnya, dalam surat Al-Isra ayat 70 allah memberikan penghormatan kepada keturunan nabi Adam as dan keutamaannya di atas mahluk yang lainnya. Bahkan dalam ayat lain semua yang ada di langit an di bumi ditundukkan hanya untuk manusia (Qs. Al-Mukminun ayat 14).
Konstruksi dari seorang manusia sungguh luarbiasa, manusia memiliki dua kemulian, pertama secara substansial yang berhubungan dengan antologi, kedua kemulian iktisabi yang berhubungan dengan pengetahuan nilai yaitu aksiologi (DR. Mahmud Rajabi – Horison Manusia – Hal. 165).
24 agustus 201
Jumat, 26 Agustus 2011
ZUHUD
Oleh: Makmun Rasyid
Zuhud dalam arti yang luas adalah bersyukur dengan apa yang ada dan tidak tidak kecewa terhadap apa yang telah hilang (Qs. Al-Hadid ayat 23). Di antara banyak buku-buku atau kitab yang membahas tentang zuhud tidaklah semua pendapat saya berikan disini, karena keterbatasan tempat tulisan. Saya mengambil dari kitab ihya ‘ulumuddin yang dimana Imam Ghozali memberikan pengertian tentang zuhud, (1) zuhud yang di dorong oleh arasa takut terhadap api neraka ini dinamakan zuhudnya orang awam, (2) zuhud yang di dorong oleh motif untuk mencari kenikmatan hidup di akhirat ini dinamakan zuhudnya orang yang berpengharapan, (3) zuhud yang di dorong oleh keinginan untuk meninggalkan kehidupan dunia – tazzkiyatun nafs – ini dinamakan zuhudnya orang ‘Arifin.
Yang penting digarisbahawi di atas adalah meninggalkan kehidupan dunia itu bukan meninggalkan kewajiban kita untuk bekerja dan berlayar di muka bumi, tapi inti dari “meninggalkan kehidupan dunia” adalah meninggalkan perasaan cinta kita terhadap dunia, karena dunia adalah ladang memupuk amal akhirat dan dunia tempat berccocok tanam amal dan kehidupan akhirat yang kekal itulah yang di nantikan setiap insan manusia.
Referensi:
* Yusuf Musa – Falsafah – Hal. 188
* Ihya ‘ulumuddin
* Said Hawa – Mensucikan Jiwa – Hal. 329
Zuhud dalam arti yang luas adalah bersyukur dengan apa yang ada dan tidak tidak kecewa terhadap apa yang telah hilang (Qs. Al-Hadid ayat 23). Di antara banyak buku-buku atau kitab yang membahas tentang zuhud tidaklah semua pendapat saya berikan disini, karena keterbatasan tempat tulisan. Saya mengambil dari kitab ihya ‘ulumuddin yang dimana Imam Ghozali memberikan pengertian tentang zuhud, (1) zuhud yang di dorong oleh arasa takut terhadap api neraka ini dinamakan zuhudnya orang awam, (2) zuhud yang di dorong oleh motif untuk mencari kenikmatan hidup di akhirat ini dinamakan zuhudnya orang yang berpengharapan, (3) zuhud yang di dorong oleh keinginan untuk meninggalkan kehidupan dunia – tazzkiyatun nafs – ini dinamakan zuhudnya orang ‘Arifin.
Yang penting digarisbahawi di atas adalah meninggalkan kehidupan dunia itu bukan meninggalkan kewajiban kita untuk bekerja dan berlayar di muka bumi, tapi inti dari “meninggalkan kehidupan dunia” adalah meninggalkan perasaan cinta kita terhadap dunia, karena dunia adalah ladang memupuk amal akhirat dan dunia tempat berccocok tanam amal dan kehidupan akhirat yang kekal itulah yang di nantikan setiap insan manusia.
Referensi:
* Yusuf Musa – Falsafah – Hal. 188
* Ihya ‘ulumuddin
* Said Hawa – Mensucikan Jiwa – Hal. 329
Sabtu, 20 Agustus 2011
MANUSIA SELALU MENDAPAT KARUNIA ALLAH TETAPI KEMAKSIATANNYA BERIRINGAN DENGAN KARUNIA-NYA TERSEBUT
Manusia tidak sadar akan keberadaannya hidup yang singkat ini serta mempunyai tantangan yang dahsyat. Allah SWT memberikan rahmat karunianya tanpa toleransi atau pamrih mengenai suatu hal kepada mahluknya, ini bersifat ushuliyyah adapula yang bersifat kekhususan yang sangat potensial yang hanya diberikan kepada orang islam saja yaitu sifat rahim-Nya.
Allah memberikan sebuah karunianya dan manusia mu’dzam membarenginya dengan kemaksiatan kepada-Nya, akan tetapi manusia tersebut merasa ful- enjoy dengan keadaan itu dan dia tidak merasa ada kekhawatiran yang akan muncul nantinya. Memang Allah tidak memberikan murkanya berbarengan dengan orang yang mengiringi karunia-Nya dengan kemaksiatan itu, akan tetapi ada jeda atau tempo waktu yang Allah berikan kepadanya, dalam tempo waktu itu seharusnya manusia itu bertaubat, namun mu’dzam manusia terlehai dengan hal itu.
خف من وجود احسانه اليك ودوام اساءتك معه ان يكون ذلك استدراجا لك (كتاب الحكم)
Waspadalah terhadapap karunia atau fadhal Allah swt yang engkau peroleh dari Allah sementara engkau berbuat maksiat kepada sebab hal itu dapat menjadi istidraj bagimu (Syaikh Imam Ibnu ‘Atha’illah – Kitab Hikam – Hikmah ke 75), istidraj mempunyai dua artian: Pertama pemberian Allah kepada orang jahat berupa rezekinya karena karunianya, seperti pemimpin dzalim yang berkuasa, maknax poin di atas adalah rahmat Allah itu untuk seluruh mahluknya – apakah dia syukur atau kufur (Surat Al-Insan ayat 3), namun poin ini juga ada qodarahu taqdiira (Surat Al-Insan ayat 16). Kedua Hanya tinggal menunngu waktu dia jatuh yang ditinggikan oleh Allah, seperti orang yang di beri harta kekayaan lalu Allah mencampakkannya karena kemungkarannya yang tidak mau mengeluarkan zakat.
Di dalam Al-Qur’an ada sebuah kalimat yang menarik kita bahas untuk mengkorelasikan dengan perkataan imam ‘Atha’illah Ra, sebagaimana firman Allah swt dalam surat Nun ayat 44 yang berbunyi: سنستدرجهم من حيث لايعلمون(nanti kami akan tarik mereka dengan berangsur-ansur “dalam kebinasaan” dari arah yang mereka tidak ketahui), asli arti درج yaitu berjalan, musnah dan mendekatkan sesuatu secara berangsur-angsur, adapun makna dari استدرج yaitu kenikmatan yang membuat kehancuran. Munculnya istidraj itu di mulai dari sifat sombong beserta kerabatnya, dan berakhir dengan kemusnahan.
استدرج – itu juga bentuk limpahan nikmat, yang di duga kebaikan atau merasa terhindar dari hukuman. Padahal ia merupakan pancingan untuk melakukan pelanggaran yang lebih besar sehingga sanksi hukum yang di terima lebih besar pula. من حيث لايعلمون – yaitu jatuhnya sanksi itu melalui sebab, perbuatan atau kondisi yang kelihatannya baik tetapi justru membawa bencana (Quraisy Syihab – Tafsir Al-Misbah – Vol 14).
Kenapa manusia tidak memikirkan istidraj, karena hal itu belum terjadi kepada dirinya, seseorang tidak akan menyadaari ketidakmampuan dirinya sebelum ia memikirkan dan meneliti pekerjaannya dan kekuasaan allah. Istidraj mempunyai obat mujarab yaitu syukur, karena syukur mengatasi semua aspek (Imam Ghazali – Kitab Ihya ‘Ulumuddin), istidraj adalah salah satu ujian yang allah berikan kepada hambanya, jika ia tidak bisa memperalatkannya dan bertindak gegabah serta ingkar terhadap si-pemberi maka ia seperti binatang bahkan lebih sesat dari itu (Surat Al-‘Araf ayat 179).
Sebuah kebodohan kalau seseorang yang ingin mencari tuhan kemudian dia berprasangka buruk dan ketika berbuat sesuatu dia berkata ah tidak-tidak apa-apa, apabila ini perbuatan buruk maka rahmat allah masih tetap mengarungi karunianya karna rahmatnya bersifat universal, seperti uang haram dan uang halal yang di lihat bukan orisinil wujudnya tapi konstruksi atau esensi dari uang tersebut dan ini juga mempengaruhi berkatnya suatu hasil dan akibat dari suatu perbuatan di atas yang mempersangka buruk terhadap Allah, proses itu sdh msuk dalam kategori istidraj.
Jadilah kita orang yang bersyukur, agar terbebas dari istidraj, sesuatu yang buruk akan mencari pasangannya, segala sesuatu yang ada di dunia ini berpasang-pasangan tak terkecuali.
Seringkli karunia-Nya datang tiba-tiba agar hambanya tidak berprasangka bahwa munculnya karunia itu berbarengan dengan proses itu, Allah memberikan rezekinya yang tak terduga-duga karena ia telah menjalankan tugasnya di muka bumi, Allah memberikan seperti apa yang engkau prasangkakan (Hadits).
Seluruh permainan yang ada di dunia ini akan tampak jelas ketika di akhirat – dan yang menghantarkan ke akhirat adalah nilai amal baik yang di tanam ketika di dunia – keadilan dunia tidak terjamin ke-orisinilnya akan tetapi keadilan akhirat kekal abadi.
Allah memberikan sebuah karunianya dan manusia mu’dzam membarenginya dengan kemaksiatan kepada-Nya, akan tetapi manusia tersebut merasa ful- enjoy dengan keadaan itu dan dia tidak merasa ada kekhawatiran yang akan muncul nantinya. Memang Allah tidak memberikan murkanya berbarengan dengan orang yang mengiringi karunia-Nya dengan kemaksiatan itu, akan tetapi ada jeda atau tempo waktu yang Allah berikan kepadanya, dalam tempo waktu itu seharusnya manusia itu bertaubat, namun mu’dzam manusia terlehai dengan hal itu.
خف من وجود احسانه اليك ودوام اساءتك معه ان يكون ذلك استدراجا لك (كتاب الحكم)
Waspadalah terhadapap karunia atau fadhal Allah swt yang engkau peroleh dari Allah sementara engkau berbuat maksiat kepada sebab hal itu dapat menjadi istidraj bagimu (Syaikh Imam Ibnu ‘Atha’illah – Kitab Hikam – Hikmah ke 75), istidraj mempunyai dua artian: Pertama pemberian Allah kepada orang jahat berupa rezekinya karena karunianya, seperti pemimpin dzalim yang berkuasa, maknax poin di atas adalah rahmat Allah itu untuk seluruh mahluknya – apakah dia syukur atau kufur (Surat Al-Insan ayat 3), namun poin ini juga ada qodarahu taqdiira (Surat Al-Insan ayat 16). Kedua Hanya tinggal menunngu waktu dia jatuh yang ditinggikan oleh Allah, seperti orang yang di beri harta kekayaan lalu Allah mencampakkannya karena kemungkarannya yang tidak mau mengeluarkan zakat.
Di dalam Al-Qur’an ada sebuah kalimat yang menarik kita bahas untuk mengkorelasikan dengan perkataan imam ‘Atha’illah Ra, sebagaimana firman Allah swt dalam surat Nun ayat 44 yang berbunyi: سنستدرجهم من حيث لايعلمون(nanti kami akan tarik mereka dengan berangsur-ansur “dalam kebinasaan” dari arah yang mereka tidak ketahui), asli arti درج yaitu berjalan, musnah dan mendekatkan sesuatu secara berangsur-angsur, adapun makna dari استدرج yaitu kenikmatan yang membuat kehancuran. Munculnya istidraj itu di mulai dari sifat sombong beserta kerabatnya, dan berakhir dengan kemusnahan.
استدرج – itu juga bentuk limpahan nikmat, yang di duga kebaikan atau merasa terhindar dari hukuman. Padahal ia merupakan pancingan untuk melakukan pelanggaran yang lebih besar sehingga sanksi hukum yang di terima lebih besar pula. من حيث لايعلمون – yaitu jatuhnya sanksi itu melalui sebab, perbuatan atau kondisi yang kelihatannya baik tetapi justru membawa bencana (Quraisy Syihab – Tafsir Al-Misbah – Vol 14).
Kenapa manusia tidak memikirkan istidraj, karena hal itu belum terjadi kepada dirinya, seseorang tidak akan menyadaari ketidakmampuan dirinya sebelum ia memikirkan dan meneliti pekerjaannya dan kekuasaan allah. Istidraj mempunyai obat mujarab yaitu syukur, karena syukur mengatasi semua aspek (Imam Ghazali – Kitab Ihya ‘Ulumuddin), istidraj adalah salah satu ujian yang allah berikan kepada hambanya, jika ia tidak bisa memperalatkannya dan bertindak gegabah serta ingkar terhadap si-pemberi maka ia seperti binatang bahkan lebih sesat dari itu (Surat Al-‘Araf ayat 179).
Sebuah kebodohan kalau seseorang yang ingin mencari tuhan kemudian dia berprasangka buruk dan ketika berbuat sesuatu dia berkata ah tidak-tidak apa-apa, apabila ini perbuatan buruk maka rahmat allah masih tetap mengarungi karunianya karna rahmatnya bersifat universal, seperti uang haram dan uang halal yang di lihat bukan orisinil wujudnya tapi konstruksi atau esensi dari uang tersebut dan ini juga mempengaruhi berkatnya suatu hasil dan akibat dari suatu perbuatan di atas yang mempersangka buruk terhadap Allah, proses itu sdh msuk dalam kategori istidraj.
Jadilah kita orang yang bersyukur, agar terbebas dari istidraj, sesuatu yang buruk akan mencari pasangannya, segala sesuatu yang ada di dunia ini berpasang-pasangan tak terkecuali.
Seringkli karunia-Nya datang tiba-tiba agar hambanya tidak berprasangka bahwa munculnya karunia itu berbarengan dengan proses itu, Allah memberikan rezekinya yang tak terduga-duga karena ia telah menjalankan tugasnya di muka bumi, Allah memberikan seperti apa yang engkau prasangkakan (Hadits).
Seluruh permainan yang ada di dunia ini akan tampak jelas ketika di akhirat – dan yang menghantarkan ke akhirat adalah nilai amal baik yang di tanam ketika di dunia – keadilan dunia tidak terjamin ke-orisinilnya akan tetapi keadilan akhirat kekal abadi.
Langganan:
Komentar (Atom)